Senin, 20 Juli 2009

totalitas devinisi SUNNAH

Definisi SUNNAH dari arti yang terluas sampai arti yang tersempit sebagai berikut:

1. Mencakup seluruh isi agama Islam, Al-Qur’an dan Hadits, mencakup seluruh keadaan Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam dari segi ilmiah dan amaliah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh-:

إِذِ السُّنَّةُ هِيَ الشَّرِيْعَةُ وَهِيَ مَا شَرَعَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ مِنَ الدِّيْنِ

"Sunnah itu adalah syari’ah yaitu apa-apa yang disyari’ahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya". [1]

2. Sunnah dalam arti lawannya bid’ah. Arti ini pun bisa mencakup seluruh ma’na, sebab bid’ah adalah lawannya Al Qur’an dan Al Hadits. Bersabda Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam:

مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنْ السُّنَّةِ فَتَمَسُّكٌ بِسُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ إِحْدَاثِ بِدْعَةٍ

Tidak ada satu bid’ah pun yang dilakukan oleh suatu kaum, kecuali dicabut satu sunnah tandingannya. Maka, berpegang teguh dengan sunnah lebih baik daripada membuat bid`ah “.[2]

3. Sunnah dalam arti hadits Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam. [3]

4. Sunnah dalam arti ushuluddin yaitu dasar-dasar agama dan aqidah.

Ibnu Rojab –rohimahulloh- berkata:

وَإِنَّمَا خَصُّوا هَذَا الْعِلْمَ بِإِسْمِ السُّنَّةِ لأَنَّ خَطَرَهُ عَظِيْمٌ وَالْمُخَالِفَ فِيْهِ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ

Banyak dari ulama mengkhususkan ilmu aqidah dengan nama sunnah, karena urgensi aqidah adalah agung yang mana setiap penyimpangnya berada dalam bahaya besar”. [4]

Banyak pula buku-buku salafus soleh yang berjudulAs sunnah” yang berisi ilmu-ilmu aqidah seperti As-Sunnah yang ditulis oleh Abu Bakr Al-Atsram (W. 272 H), Kitabussunnah yang ditulis oleh Ibnu Abi `Asim (W. 287 H), As Sunnah yang ditulis oleh Muhamad Bin Nasr Al Mirwazi (W. 294 H), Sorihus sunnah yang ditulis oleh Ja’far At Thobari (W. 310 H) dan lain-lain.

5. Sunnah dalam arti nafilah atau mustahabbah yang arti-nya amal-amal yang kalau dikerjakan diberi pahala dan kalau ditinggalkan tidak mengakibatkan dosa. [5]




[1] (Majmu’ al Fatawa, 4/436)

[2] Hr. Ahmad : 16356 hadits ini dhoif, karena Abu Bakar bin Abdulloh bin Muhammad Abu Sabroh.

[3] Syarh Al Kaukab Al Munir : 2/166

[4] Jami` Al `Ulum wa Al Hikam : 495

[5] Lihat kitab-kitab Fiqh

[6] Lihat Kitab “Majmu` Al Fatawa”, Ibnu Taimiyyah : 3/157. “Syarh Al `Aqidah Al Wasitiyyah”, Al Harros : 16. “Fathul Bari”, Ibnu Hajar Al `Asqolani : juz 13 dan “Al I`tisom”, Asy Syathibi : juz 2.