Selasa, 23 Februari 2010

RUMAH DOWNLOAD ANE

materi-materi untuk belajar usaha diproperti, silakan donwload...

Materi training spiritua preneurship....

Nah untuk sofware itung-itunganya... yang ini ni... Donwload

Jumat, 29 Januari 2010

CONTOH RPP PAI KLS VII

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)


Mata Pelajaran :Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : VIII (Delapan) / II (Dua)
Pertemuan ke : -
Alokasi Waktu :2 x 40


SETANDAR KOPETENSI
1. Siswa memahami hakikat zakat fitrah dan zakat mal

KOPETENSI DASAR
11.1 Siswa menunaikan Zakat fitrah
11.2 Siswa menjadi amil ( Kepanitiaan) dalam zakat fitrah/mal

INDIKATOR
 Siswa dapat menyebutkan pengertian dari zakat mal dan fitrah
 Siswa mampu menulis salah satu dalil dari kewajiban berzakat
 Siswa dapat memberikan 3 contoh harta yang dikenai zakat mal
 Siswa dapat membedakan antara zakat fitrah dan zakat mal

I. TUJUAN PEMBELAJARAN
Memaparkan pengertian zakat dan hukum-hukumnya

II. MATERI AJAR
zakat

III. METODE PEMBELAJARAN
Ceramah, Tanya Jawab, Survei lapangan

IV. Langkah-langkah Pembelajaran

A. Kegiatan Awal
1) Motivasi: Tujuan belajar/Sekolah bukan hanya untuk mencari kerja
2) Indahnya Islam dengan zakat
3) Bertanya ‘apa beda zakat dengan pajak?’

B. Kegiatan Inti
1) Menjelaskan pengertian zakat mal, rukun dan hukumnya
2) Menerangkan harta-harta yang wajib dizakati beserta nisabnya
3) Membacakan Dalil Naqli tentang kewajiban berzakat
4) Bertanya kepada Siswa manfaat zakat dalam kehidupan
5) Menjelaskan Orang-orang yang berhak menerima zakat
6) Menjelaskan pengertian zakat fitrah dan hukumnya dalam Islam
7) Menerangkan waktu pembayaran zakat fitrah

C. KEGIATAN AKHIR
 Meminta siswa menghafal dalil zakat
 Menberikan tugas, ‘bertanya kepada petani tentang hasil panen (padi) dan kemudian menghitungnya jika telah terkena nisab Zakat’

V. ALAT DAN SUMBER BELAJAR

 Buku Paket
 Al Qur’an
 Umdatul ahkam min kalamil khairul anam (Kumpulan hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim dalam masalah fiqh).
 Minhajul qasidin

VI. PENILAIAN
Siswa menghafal dalil kewajiban berzakat (Qs.4: 77).


Rangkasbitung, 20 Januari 2010






Juwono Risqi

Kamis, 26 November 2009

LETIH


letih adalah suatu hal wajar dan pernah, bahkan hampir dialami oleh setiap orang. tak pandang status, keadaan, bahkan tempat.Ia mampu hadir dalam perasaan Raja, panglima, atau bahkan rakyat jelata.

sayangnya, bagaimana jika ia hadir di hadapan seorang pejuang, pengusung panji-panji kebenaran, apa gerangan jika seorang pejuang letih, tentara sunnah loyo dari mendan dan kancah da'wah.... aduhai bukankah syaitan tak pernah lelah dalam mengangkat panji-panji kegelepannya.

akhie... jika kita letih, maka jadikan letih ini tetap diatas rel da'wah, jika kita lelah ketahuilah bahwa setelah keletihan ada tak ada lagi kecuali kebahagiaan, dan jika kita terluka maka ketahuilah, mereka para pengusung kebatilan juga mengalaminya.

kita adalah umat yang menjadikan kebaikan sebagai tonggaknya, kita tidak mengenal kompromi diatas jalan kemunafikan, dan kita yakin diatas puncak keyakinan bahwa dien ini mulia dan hanya orang-orang memiliki kemurnian hatilah yang dapat menegakkannya.

Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

Minggu, 25 Oktober 2009

PANDANG MATA DAN SABDA NABI KITA ?

Abu Hamid Ghozali mengatakan:"Seandainya orang yahudi memberitahu bahwa makanan anda yang paling lezat tidak baik untuk perkembangan kesembuhan sakit anda, pasti anda sanggup bersabar tidak menyentuhnya, meninggalkannya dan anda memaksakan diri untuk hal itu. Lantas apakah sabda para Nabi saw yang diperkuat dengan berbagai jenis mukjizat dan firman Alloh swt dalam kitab-Nya itu pengaruhnya pada diri anda, tidak sehebat ucapan seorang yahudi yang memberi tahu anda berlandaskan praduga dan sangkaan, pun disertai akal yang terbatas dan ilmu yang tidak seberapa?. (lihat Ikhya' Ulumuddin: 4/ 442).

SUNGGUH NABI KITA BERWASIAT UNTUK MENJAGA PANDANGAN MATA

Rasulullah saw. Bersabda, "Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah resiko bagimu." (HR Ahmad)


Sesungguhnya mata-mata indah nan jelita

Mampu membunuh, namun tak dapat menghidupkan korbannya

Merobohkan pemilik kecerdasan hingga tak mampu bergerak

Padahal ia makhluk Alloh yang paling rapuh susunannya


Jangan biarkan hati ini kotor berkarat bahkan mati lantaran pandangan mata yang bercun.

inilah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, selaku dokter syar'i yang beriman telah mendiagnosa gejala-gejala penyakit yang bisa mengakibatkan kematian hati. Dalam kesimpulannya, ia menuliskan beberapa pengaruh buruk dosa sebagai berikut:

  • Berkurangnya taufiq Alloh swt (pada pelakunya).
  • Pendapat yang menyimpang
  • Tersamarnya kebenaran
  • Rusaknya hati
  • Dangkalnya ingatan
  • Menyia-nyiakan waktu
  • Menjauhnya dari makhluk
  • Munculnya keterasingan antara hamba dengan Robbnya
  • Tidak diijabahi (dikabulkan) do'anya
  • Kekerasan hati
  • Hilangnya berkah rezeki dan usia
  • Menjauhi ilmu
  • Tertimpa kerendahan dan dihinakan musuh
  • Dada yang sempit
  • Ujian berupa teman-teman buruk yang merusak hati dan membuang-buang waktu.
  • Kegundahan dan kesedihan yang berlarut-larut
  • Kehidupan yang sempit dan buramnya hati

Semua ini lahir dari perbuatan maksiat dan kelalaian dari mengingat Alloh swt, seperti tumbuhnya tanaman dari air dan kebakaran dari api. Sedangkan, kebalikan dari hal-hal ini lahir keta'atan. (lihat Al-Fawa'id)

Selain gejala-gejala diatas, masih ada lagi penyakit yang lain seperti; tidak suka bertemu dengan Alloh swt (takut mati), takut terhadap hisab dan hukuman. Untuk masalah ini, coba anda dengarkan dengan seksama ungkapan Ibnu Jauzi. Karena boleh jadi anda tidak akan mendengar dari selain dirinya,"Jauhilah olehmu akan perbuatan-perbuatan dosa. Andaikata dosa-dosa hanya mengakibatkan perasaan benci bertemu, itu sudah cukup sebagai sanksinya. Hal terindah bagi Ya'qub melihat Yusuf kembali, sementara yang paling tidak disukai saudara-saudara Yusuf adalah bertemu dengannya lagi". (lihat AL-Latho'if: 62 Ibnu Jauzi)

Senin, 20 Juli 2009

totalitas devinisi SUNNAH

Definisi SUNNAH dari arti yang terluas sampai arti yang tersempit sebagai berikut:

1. Mencakup seluruh isi agama Islam, Al-Qur’an dan Hadits, mencakup seluruh keadaan Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam dari segi ilmiah dan amaliah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh-:

إِذِ السُّنَّةُ هِيَ الشَّرِيْعَةُ وَهِيَ مَا شَرَعَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ مِنَ الدِّيْنِ

"Sunnah itu adalah syari’ah yaitu apa-apa yang disyari’ahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya". [1]

2. Sunnah dalam arti lawannya bid’ah. Arti ini pun bisa mencakup seluruh ma’na, sebab bid’ah adalah lawannya Al Qur’an dan Al Hadits. Bersabda Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam:

مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنْ السُّنَّةِ فَتَمَسُّكٌ بِسُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ إِحْدَاثِ بِدْعَةٍ

Tidak ada satu bid’ah pun yang dilakukan oleh suatu kaum, kecuali dicabut satu sunnah tandingannya. Maka, berpegang teguh dengan sunnah lebih baik daripada membuat bid`ah “.[2]

3. Sunnah dalam arti hadits Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam. [3]

4. Sunnah dalam arti ushuluddin yaitu dasar-dasar agama dan aqidah.

Ibnu Rojab –rohimahulloh- berkata:

وَإِنَّمَا خَصُّوا هَذَا الْعِلْمَ بِإِسْمِ السُّنَّةِ لأَنَّ خَطَرَهُ عَظِيْمٌ وَالْمُخَالِفَ فِيْهِ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ

Banyak dari ulama mengkhususkan ilmu aqidah dengan nama sunnah, karena urgensi aqidah adalah agung yang mana setiap penyimpangnya berada dalam bahaya besar”. [4]

Banyak pula buku-buku salafus soleh yang berjudulAs sunnah” yang berisi ilmu-ilmu aqidah seperti As-Sunnah yang ditulis oleh Abu Bakr Al-Atsram (W. 272 H), Kitabussunnah yang ditulis oleh Ibnu Abi `Asim (W. 287 H), As Sunnah yang ditulis oleh Muhamad Bin Nasr Al Mirwazi (W. 294 H), Sorihus sunnah yang ditulis oleh Ja’far At Thobari (W. 310 H) dan lain-lain.

5. Sunnah dalam arti nafilah atau mustahabbah yang arti-nya amal-amal yang kalau dikerjakan diberi pahala dan kalau ditinggalkan tidak mengakibatkan dosa. [5]




[1] (Majmu’ al Fatawa, 4/436)

[2] Hr. Ahmad : 16356 hadits ini dhoif, karena Abu Bakar bin Abdulloh bin Muhammad Abu Sabroh.

[3] Syarh Al Kaukab Al Munir : 2/166

[4] Jami` Al `Ulum wa Al Hikam : 495

[5] Lihat kitab-kitab Fiqh

[6] Lihat Kitab “Majmu` Al Fatawa”, Ibnu Taimiyyah : 3/157. “Syarh Al `Aqidah Al Wasitiyyah”, Al Harros : 16. “Fathul Bari”, Ibnu Hajar Al `Asqolani : juz 13 dan “Al I`tisom”, Asy Syathibi : juz 2.